hhi, tugas pelajaran Bahasa Indonesia, disuruh bikin tulisan dari salah satu benda yang kita pilih, tulisannya ada yang tulisan ilmiah, dan fiksi, dibawah ini tulisan fiksi yang berupa cerpen. enjoy it ! comment and critics are very-very allowed !
Penantian
Kamu datang lagi, kali ini sendirian. Lagi-lagi duduk dihadapanku. Ada apa ? Kenapa wajahmu begitu muram? Apa yang mengganggumu ? tanyaku bertubi-tubi. Tapi kamu cuma diam dan menghela napas. Setelah memesan makan, kamu mulai makan dengan khidmat. Beberapakali kamu terbatuk. Barangkali, ada sisa makanan nakal yang membuatmu tersedak. Andai saja aku bisa, aku pasti sudah mengelus punggungmu dengan sayang dan mengambilkanmu minum. Tidak seperti lelaki yang kuketahui sebagai kekasihmu itu, sering kali kulihat, saat kau tersedak, dia malah menyalahkanmu karna makan terlalu cepat. Aku tau kamu terluka, tapi kamu berusaha tertawa.
Pertama kali aku melihatmu, sekitar tujuh hari yang lalu, kalikan dengan dua puluh empat, kalikan dengan enam puluh, kalikan lagi dengan enam puluh, dan yang terakhir kalikan dengan enam puluh. Tiga puluh enam juta dua ratus delapan puluh delapan ribu nano datik sudah kupersembahkan untuk mencintaimu. Coba tambahkan dengan rupiah dibelakangnya. Pasti sudah kuberikan apapun maumu. Walaupun aku tau, kamu tak pernah minta secuil pun materi pada kekasihmu itu. Kamu cuma ingin waktu dan perhatiannya untukmu. Kamu cuma ingin sedetik saja otaknya hanya memikirkan kamu, bukan dia, dia, atau dia yang lain. Sedangkan aku ? kuberikan seluruh sisa hidupku untuk mengagumimu. Aku begitu merindukan waktu untuk dapat melihatmu. Dipenghujung waktu ku ini. Saat teman-teman ku satu persatu mulai diangkat, dan hanya segelintir yang tersisa. Aku ingat saat itu, hari ketiga sejak aku pertama kali memandangmu, kau datang dengannya, berusaha menarik perhatiannya dengan cerita mu, tapi dia hanya mendengar separuh ceritamu, sisanya ? Dia memunggungimu dan berbicara dengan yang lain. Aku tau kamu kecewa, tapi kamu berusaha diam dan bermain dengan ponsel ditanganmu. Kamu takut dibilang tidak dicintai. Kamu takut untuk kehilangan dia, dia yang selalu jadi matahari yang menyinari banyak planet, bukan bulan yang kehadirannya menghiasi malam hanya untuk bumi. Kamu cuma tertunduk, sambil sesekali ikut tertawa karena lelucon orang lain. Sedangkan aku ? aku hampir mati penasaran ingin tau lanjutan ceritamu.
Ah, kamu sudah selesai makan, aku hampir tidak sadar. Sedang apa ? Tanyaku padamu yang hanya kau jawab dengan sunyi. Ah, bodohnya aku, aku tau kamu hanya akan terdiam, tapi aku tetap saja menanyakan kabarmu setiap kali kita bertemu. Hei, ponselmu berbunyi ! seruku. Kamu mengambil ponsel itu dengan senyum terkulum, ada raut penantian disana. Sedetik kemudian wajahmu kembali tertekuk. Setelah beberapa kali memencet tombol, kamu kembali memasukkan ponsel itu disaku mu. Kamu tergugu, menunggu sesuatu yang berusaha kamu yakini, tapi kenyataannya tidak. Jam dikantin sudah menunjukkan waktu lebih dari jam istirahat sekolah. Siswa-siswa lain sudah kembali kekelasnya. Seharusnya kamu juga, tapi tidak, kamu berusaha menunggu, mengumpulkan serpihan keyakinan yang sempat ingin kau buang. Matamu mencari-cari sosok yang selalu kau doakan dalam doamu tiap malam. Setelah lelah mencari, kamu kembali duduk diam. Menimbang-nimbang apakah kamu harus kembali ke kelas, atau duduk saja disini, siapa tau dia akan lewat dan sekedar mengelus kepalamu. Lewat dua puluh menit dari waktu istirahat. Akhirnya yang kau nanti terlihat juga, berjalan bersama dua orang temannya. Senyum tipis mengembang di bibirmu, kalimat demi kalimat sudah terangkai di otakmu. Tapi ternyata dia hanya lewat begitu saja, tertawa riang. Bahkan untuk menatapmu saja dia tak sempat. Dia terlalu sibuk menjadi bintang. Sisa-sisa keyakinan yang tadi kau genggam terhempas sudah. Ini bukan pertama kalinya, aku tau itu. Setitik air sudah menggenang di ujung matamu. Ingin sekali aku menghapusnya dan mengelus pipimu. Tapi aku terlambat. Punggung tanganmu lebih cepat menghancurkannya. “Dia memang sibuk, bukan berarti dia mengacuhkanku” katamu dalam hati, memberi sugesti diri. Empat puluh lima menit sudah kau hadir dihadapanku. Es jeruk yang kau pesan sudah habis. Bel jam pelajaran berikutnya sudah hampir berbunyi. Kantin kembali sepi. Begitu juga hatimu, aku tau itu. Andai saja aku yang kau nanti dan kau doakan, aku tak akan pernah membuatmu begini. Aku berjanji, di kehidupanku yang berikutnya, aku akan mencarimu, menjagamu, menyayangimu, dan memberikan segala yang aku punya. Memang bukan sekarang, karana kali ini, aku hanya sepotong kerupuk didasar kaleng yang siap disantap.
Hei, aku sendirian, tak ada lagi kerupuk lain dikaleng biru ini. Tandanya aku akan segera berpisah darimu, Ilalang. Yah, Ilalang, nama yang indah, aku tau itu dari panggilan ibu kantin kepadamu. Mungkin aku hanya akan berakhir ditempat sampah, karna kurasakan tubuhku mulai mengempis. Benar saja, tangan ibu kantin sudah meraupku. “Wah, sudah melempem ini kerupuknya, huh, buang saja lah” ujarnya seraya mengangkatku. “Eh, jangan bu, buat saya saja lah” kudengar suara malaikatmu, tak salahkah ? “Heh, jangan, yang lain saja. Bentar ya ibu ambilkan !” “Nggak, nggak usah bu, sayang kalau dibuang.” Kamu tersenyum. “Ya wis, ini, ibu kasih gratis saja. Kamu kok belum masuk kelas sih Ilalang ? Tidak ada gurunya ?” “Terimakasih bu, Iya, jam kosong, tadi saya disms Niar begitu.” “Oooo”. Ibu kantin kembali masuk ke dapur. Kini kembali aku dan kamu. Berdua. Aku tak menyangka kita akan sedekat ini. Perlahan tapi pasti aku hancur dan luluh masuk keragamu. Bersatu dengan makhluk terimdah yang pernah kulihat. Kupanjatkan doa supaya aku tak membuatmu sakit perut atau tersedak. Juga agar dikehidupan yang akan datang, aku akan menjadi pangeranmu.
“Ugh, ugh.. ” Ilalang terbatuk kecil, rupanya kerupuk yang dia makan tadi benar-benar sudah melempem, dan membuatnya tersedak. “Kenapa ? Aduuh, Tersedak ya ? Sini kuambilkan minum buatmu. Sebentar ya.” Bintang yang lewat bersama teman-temannya berhenti didekat Ilalang dan mengelus pelan pundaknya. Ilalang tertegun, tak percaya Bintang akan melakukannya. Kekasihnya itu, biasanya hanya akan menyalahkannya bila tersedak saat makan. Tapi kali ini dia memisahkan diri dari gerombolannya, bahkan mau mengambilkan air untuknya. Ilalang tersenyum, mungkin ini berkat kerupuk melempem yang dimakannya barusan.
*banyak..banyak termimakasih pada Dee, lewat Filosofi Kopi-nya, yang banyak memberi inspirasi !*
what a nice story indeed! hmm… sepertinya ini ter-inspire oleh 2 buku ya, filkop sama shit happens. hehehe,,sok tau gak sih saya?
@monz : ini mb monik kah ? iya mb, filkop nya iya, sangat. klo shit happens, aku malah belom baca. bagus mb ?
weeww ! aku baru baca. baguus !
punyaku apa ya pas itu ? keknya gg jadi dikumpulin deh.. :p