kamu dan aku terdiam dalam canggung. satu pertanyaan terlontar lewat sorot mata. tapi aku menepis. menutup mata dan berusaha diam.
aku tak tau jawaban apa yang harus kuberi dari pertanyaan retoris ku sendiri. kamu mungkin bertanya, ada apa dengan ini semua? tak bisakah kita berjalan berdampingan seperti biasa?
aku tersentak. sakit. benci. marah. semuanya jadi tak karuan, saat kamu bersama dia. aku memang tak memiliki lisensi untuk itu. tapi tak bolehkah aku sedih melihatmu seceria itu? sebuah paradoks memang. tapi itu nyata.
aku sayang kamu.
aku kira kamu cuma pelarian. pengganti dia-orang yang pernah jadi obsesiku selama hampir setahun- kukira kami cuma sebatas itu.
tapi sialnya tidak, kamu lebih dari sekedar obyek pengganti.
itulah jawaban yang bisa kujadikan pembenaran, untuk membuatmu tau, aku sedih saat kamu bersama dia. ini tidak adil, pikirku. kenapa harus dia yang membuatmu seceria itu? kenapa bukan si A, yang katamu kamu puja dan kamu cinta setengah mati? kenapa bukan si B, yang katamu manis? kenapa bukan si C, yang katamu berwajah teduh itu? kenapa bukan si… yah, kenapa bukan aku? yang merindumu dan membencimu, karena bersamamu, semuanya jadi ambigu. atas nama egoisme sekali lagi aku bertanya, kenapa harus dia? kenapa harus orang lain? aku sayang kamu. bahkan tanpa aku tau dan mau.
aku tau bukan aku yang ada di hatimu. tapi di titik itu, aku lelah. aku sudah tidak ikhlas. karena itu aku menjauh, karena saat itu, kamu ada di posisi yang tepat untuk menikamku tepat di ulu hati. kamu terlalu dekat untuk menyakitiku, tapi terlalu jauh untuk menyembuhkannya.
karena itu aku berusaha menganggapmu tak ada. sesuatu yang tidak ada, tidak akan menyakitimu. tapi ternyata tidak bisa. aku memang menjauhimu secara fisik, tapi tidak dengan hati.
akhirnya aku menyerah, kehilangan kamu ternyata lebih menyakitkan. yah, kehilangan sesuatu yang tidak pernah kamu miliki. akhirnya aku memulai dari awal lagi. memberi sugesti pada diri. bahwa kamu tidak akan pernah menyukai ku, kamu suka dia, dia, dan dia yang lain. tapi tak apa, kata hatiku, hatiku cuma ingin menyayangimu. cuma itu, katanya.
diam itu kini telah luruh. tapi tanya itu masih ada. aku tau.